Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cegah Emfisema Dengan Hindari Asap Rokok Dan Debu

Cegah Emfisema Dengan Hindari Asap Rokok Dan Debu
MAWABEJA.COM - Lingkungan yang tidak sehat membuat Anda mudah terserang penyakit. Meningkatnya intensitas asap dan debu yang dihirup manusia setiap hari membawa dampak pada kesehatan yakni merusak paru-paru. Salah satu dampak berbahaya dari hal tersebut adalah penyakit emfisema.

Apa itu Emfisema? Dan bagaimana cara mengatasinya.

Paru-paru adalah organ yang vital bagi kehidupan manusia. Manusia bernapas dengan menggunakan paru-paru dan tidak akan hidup bila organ ini tidak berfungsi. Demikian pula bila organ ini terganggu oleh penyakit.

Salah satu penyakit paru yang banyak ditemukan di Indonesia adalah emfisema. Penyakit ini digolongkan dalam paru obstruktif kronik (PPOK) atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

Penyakit paru kronik ini. merupakan salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit emfisema tahun 2010 diperkirakan menduduki peringkat ke-4.

Penyakit ini juga merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh polusi udara yang kian lama makin parah dan tak terkendali. Sebab pada hakikatnya seluruh makhluk hidup membutuhkan udara yang bersih (02).

Emfisema terjadi karena adanya tekanan udara yang berlebihan dari kantung udara di dalam paru-paru. Emfisema itu adalah suatu penyakit paru obstruktif kronis yang ditandai dengan pernafasan yang pendek dan disebabkan oleh kesulitan untuk menghembuskan seluruh udara keluar dari paru-paru karena adanya tekanan udara yang berlebihan dari kantung udara di dalam paru-paru atau alveoli.

Penyebab
Emfisema merupakan penyakit paru, terutama disebabkan paparan asap dan debu yang terjadi secara terus menerus. Emfisema merupakan penyakit paru-paru kronis (jangka panjang) yang bisa memburuk dari waktu ke waktu. Emfisema ini biasanya disebabkan akibat terlalu sering terpapar dengan asap atau debu.

Pada penderita emfisema beberapa kantung udara di paru-parunya mengalami kerusakan, sehingga sulit untuk bernapas. Asap rokok yang kita hirup itu merupakan faktor terbesar terjadinya penyakit ini.

Paparan asap atau debu yang terus menerus akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan elastin pada paru-paru yang akan masif dan permanen. “Paparan asap yang terlalu sering atau terus menerus, maka kerusakan yang terjadi pada jaringan elastin pada paru akan masif dan permanen.

Karena jaringan ini rusak maka gelembung udara (alveoli) menjadi lembek. Akibatnya udara kotor (C02) tidak bisa dipompa keluar atau terperangkap di dalam paru. sehingga menumpuk di dalam paru dan sebagian diserap lagi ke dalam darah. Akibatnya, udara bersih atau O2 terhambat untuk masuk ke dalam paru-paru.

Tidak hanya itu, faktor lain yakni usia dan genetik juga bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit paru kronik ini. Riwayat penyakit paru kronik yang diderita oleh keluarga juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit emfisema.

Gejala
Gejala penyakit emfisema tidak terlihat langsung atau pun dirasakan oleh penderitanya. Penyakit ini terjadi secara perlahan bahkan bisa terjadi bertahun-tahun tanpa adanya gejala yang terlihat.

Emfisema memang tidak memberi gejala sampai 1/3 parenkim paru tidak mampu berfungsi. Namun, gejala awal yang timbul adalah sesak nafas. Bila sudah terjadi gejala pertama yaitu berupa sesak napas, biasanya akan berlanjut ke gejala-gejala berikutnya.

Setelah mengalami sesak napas akan mengalami mengi (peradangan di saluran pernapasan), sesak dada, berkurangnya aktivitas yang dilakukan tiap hari, batuk kronis, nafsu makan berkurang hingga kehilangan berat badan, dan mudah merasa lelah.

Sesak nafas yang dialami oleh penderita emfisema tidaklah serupa dengan sesak napas yang dialami oleh penderita asma. Sesak napas pada penyakit ini tidak kenal waktu dan tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Bahkan dengan obat-obatan pun sesak napas akan selalu ada. Sesak napas ini akan bertambah jika ada aktivitas. Seperti mula-mula jalan, cepat sesak kemudian jalan lima meter saja sesak, mandi sesak yang lama-lama ambil air wudu saja sesak. Mulanya kalau duduk saja tidak sesak tapi lama-lama duduk saja sesak, enaknya kalau tiduran saja. Mulanya tidur enak, tapi lama-lama tidur saja sesak, dan seterusnya seperti itu.

Tanda klasik dari emfisema adalah dada seperti tong (barrel chested) dan ditandai dengan sesak napas disertai ekspirasi memanjang karena terjadi pelebaran rongga alveoli lebih banyak dan kapasitas difusi gas rendah.

Gejala lainnya adalah napas yang terengah-engah disertai suara seperti peluit, bibir berwarna kebiruan, otot leher tampak menonjol, batuk menahun, hingga badan menjadi lebih kurus dengan warna kulit yang pucat.

Pencegahan
Penyakit emfisema merupakan penyakit yang cukup sulit untuk dihindari. Pasalnya polusi udara di Indonesia sulit untuk dihilangkan. Asap knalpot, asap pabrik, debu-debu jalanan, bahkan hingga asap rokok. Apalagi saat ini produksi rokok justru meningkat. Meski begitu, upaya terbaik haruslah tetap dilakukan.

Cara terbaik mencegah terjadinya penyakit Emfisema adalah berhenti merokok (perokok aktif) atau hindari asap rokok (perokok pasif). Jauhi atau hindari polusi udara di setiap keseharian kita, terutama asap rokok.

Karena sebenarnya asap rokok merupakan faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. Apabila terpaksa berada dalam lingkungan yang berpolusi seperti itu sebaiknya gunakanlah masker untuk mencegah paparan terhadap zat kimia dan debu yang ada di udara.

Dan bagi perokok aktif, cara terbaik mencegah penyakit paru kronik ini adalah berhenti merokok. Karena dampaknya tak hanya bagi si perokok saja, tapi dampak tersebut bisa juga terjadi pada orang sekitar kita, perokok pasif.

Rajin berolahraga juga dapat mencegah penyakit emfisema. Berolahraga secara teratur untuk meningkatkan kapasitas paru-paru juga salah satu cara mencegah emfisema. Selain itu konsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisi juga perlu.

Tak hanya mencegah, setiap penyakit juga pasti ada cara pengobatannya. Tahap awal adalah dengan mendiagnosis emfisema dengan anamnesis (wawancara dokter dengan pasien), kemudian pemeriksaan jasmani, foto rontgen, dan pemeriksaan laboratorium faal paru, dan kemudian terapi farmakologi seperti pemberian bronkodilator dan pemberian kortikosteroid.

Karena penyakit ini mempunyai sifat seperti bronkitis kronik, yaitu ireversible dan progresif, maka hasil pengobatan biasanya kurang memuaskan. Harapan satu-satunya untuk mengurangi sesak napas adalah pemakaian oksigen setiap hari dalam jangka panjang. Bahkan selama hidupnya penderita emfisema tidak bisa lepas dari O2, di mana pun dan kapan pun.