Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Umbi Singkong Dapat Atasi Kanker

Umbi Singkong Dapat Atasi Kanker
MAWABEJA.COM - Jika sudah terkena kanker, rasanya dunia menjadi gelap. Pasalnya, penyakit ini tergolong penyakit mematikan dan penyebarannya cepat. Kanker terjadi saat sel-sel dalam tubuh membelah diri di luar kendali atau luar biasa pertumbuhannya.

Sel-sel yang tidak normal ini kemudian membentuk jaringan yang luas, serta kecepatan tumbuhnya sangat cepat. Sel-sel abnormal ini lalu menyerang jaringan terdekat, atau berpindah ke daerah yang jauh dengan cara masuk ke dalam pembuluh darah atau sistem limpatik.

Menurut Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, guru besar Farmasi FMIPA-UI obat-obatan yang digunakan adalah obat-obatan yang dapat menghentikan penyebaran pertumbuhan kanker dan menghentikan pertumbuhan jaringan yang luar biasa.

Biasanya obat-obatan kanker yang digunakan adalah racun sel. Racun sel ini harus diberikan pada sel-sel yang bertumbuh luar biasa, sehingga tidak boleh terkena atau membunuh sel lain yang normal.

Racun sel terdapat pada umbi-umbian seperti singkong atau ubi berwama ungu. Di dalam umbi-umbian tersebut terdapat racun sianida (HCN). Umbi-umbian ini mengandung sianida. tetapi jangan khawatir racun sianida dalam keadaan tidak aktif dan jumlahnya sedikit.

Senyawa HCN di dalam umbi-umbian terikat dengan zat-zat lain dan menjadi zat glikosida atau disebut ikatan glikosida. Kemudian, senyawanya menjadi glikosida sianogenik yang tidak beracun.

Namun, begitu HCN-nya teriepas dari glikosida maka sianida akan menjadi racun atau berpotensi menjadi racun. Hal tersebut bisa terjadi jika umbi seperti singkong dimakan dalam jumlah banyak Biasanya umbi singkong yang mengandung senyawa glikosida sianogenik adalah yang berwama ungu. Rasanya pahit dan biasanya jarang dijual.

HCN itu racun yang mematikan, bahkan dalam dosis kecil pun bisa mematikan dan berpotensi menyebabkan keracunan. Namun, kandungan HCN di umbi-umbian jarang terekspos karena jumlahnya sangat kecil. Biasanya yang beracun adalah yang rasanya sangat pahit.

Senyawa HCN dalam umbi singkong tersebut bisa dihilangkan. Caranya dengan merebus atau merendamnya di dalam air beberapa lama. Lalu air rendamannya dibuang dan singkong yang sudah direndam akan hilang racunnya. Pasalnya, racun sudah terhidrolisis menjadi HCN dan HCN-nya akan larut di dalam air rendaman.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti medis dari Srilanka Dr. Cynthia Jayasuriya. yang saat itu sedang menderita kanker, singkong mengandung vitamin B17. Dia mengonsumsi singkong 10 gr selama tiga kali sehari.

Setelah dikonsumsi sebulan, ia melakukan pemeriksaan kandung kemih. Ternyata kandung kemihnya bersih dan normal. Di samping itu, ia merasa fit dan sehat. Setelah itu, setiap tiga bulan ia periksa dan hasilnya tetap bersih.

Vitamin B17 di dalam singkong, nama ilmiahnya amygdaline. Sel-sel kanker adalah sel yang belum matang dan memiliki enzim yang berbeda dengan enzim normal. Ketika vitamin B17 digabungkan dengan enzim sel normal, B17 akan terurai menjadi tiga jenis gula.

Tetapi ketika tergabung dengan enzim sel kanker, vitamin B17 terurai menjadi gula, benzaldehida dan asam hidrosianik. Asam hidrosianik inilah yang membunuh sel kanker secara lokal.

Lantas bagaimana memanfaatkan umbi-umbian sebagai obat untuk kanker? Karena yang dibutuhkan adalah racunnya, maka kandungannya harus berbentuk HCN bebas.

Cara membuatnya, singkong diparut dan setelah itu parutan singkong ditempelkan pada jaringan kanker yang berdekatan dengan sel-sel kulit. Jadi, tidak benar jika singkongnya direndam dan lalu airnya dibuang, dan kemudian singkongnya direbus dan dimakan karena nanti racunnya sudah tidak berkhasiat lagi.

Sebelum menempelkan. sebaiknya seseorang mengetahui letak kankernya yang berdekatan dengan kulit Misalnya untuk kanker lever, maka parutan singkong ditempelkan di perut. Selanjutnya adalah bagian yang ditempelkan parutan singkong diperban.

Lalu didiamkan selama 3-5 jam dan sesudah itu bisa diulang lagi penempelan parutan singkong. Jadi penggunaannya bisa sepanjang hari. Dengan ditempelkan maka racun akan diserap melalui kulit menuju tempat kankernya dan mematikan sel-sel kanker tersebut.

Terapi ini tidak dianjurkan dilakukan tanpa pengawasan ahli karena bisa menjadi berbahaya. Tidak dianjurkan untuk dikonsumsi, apalagi dalam jumlah banyak karena sel-sel lain yang normal juga bis terkena racun. Penggunaannya berapa lama tergantung dari luasnya jaringan kanker.

Di samping menggunakan umbi-umbian seperti singkong, kanker juga bisa diatasi dengan sambiloto, yang memiliki sifat pahit ini. Sambiloto ini mengandung beberapa kandungan racun andrografolid. Jika diminum kandungan racun andrografolid ini bisa mencari sel kanker sendiri namun dengan dosis yang tepat.

Sambiloto biasanya dijadikan ramuan untuk diminum. Biasanya sebanyak 1 genggam sambiloto direbus dengan air 10%-nya. Jadi jika 10 gr sambiloto, maka air yang digunakan sebanyak 100 gr. Meski rasanya sangat pahit, tetapi jika ingin sembuh dari kanker maka ramuan ini harus diminum setiap hari, pagi dan sore hari.

Lamanya penyembuhan kanker dengan umbi-umbian maupun dengan sambiloto, tergantung rajin atau tidaknya seseorang mengonsumsi, serta tingkat stadium kanker. Biasanya setelah pengobatan 1 -2 minggu harus diperiksakan ke dokter untuk melihat apakah jaringan kanker masih ada atau tidak. Karena obat herbal, meski tidak memiliki efek samping namun biasanya pengobatannya lama.

Oleh sebab itu, biasanya cara ini dilakukan oleh mereka yang kankernya masih stadium awal. Jika kanker sudah stadium akhir sebaiknya melakukan pengobatan dengan obat-obatan kedokteran yang memberikan hasil cepat.